Mandhom Sesungguhnya aku tak butuh dunia, jika ternyata aku mampu melihat keindahan-Nya dari mata seorang hamba yang kelak bersujud satu sajadah di belakangku.

One Day Two Beach

Pantai Tambakrejo
Gambar diambil saat ada ombak di Pantai Tambakrejo

Satu hari dua pantai. Ya benar, cerita ini berawal dari saya dan teman kerja saya yang saat itu sedang bekerja di Kota Blitar. Kota Patria yang menjadi tempat pemakaman presiden pertama.

Tempat kerja kedua saya, setelah saya bekerja di daerah Surabaya yang dulunya setengah bekerja setengah juga jagain rumah bos saya, hihi.

Rencana Pergi

Beberapa hari sebelum hari minggu. Bos di tempat keja saya, ingin menjenguk anaknya di Pondok Gontor yang berada di Kota Ponorogo.

Mendengar kabar seperti itu, sebut saja namanya Huda atau sering dipangggil Hudeng. Dia ingin sekali refreshing mencari udara segar selama bekerja disana.

Dia juga yang mengajak saya untuk bekerja disana, setelah saya nganggur di rumah beberapa bulan.

Karna di tempat kerjanya, saya dengar-dengar pekerjaan yang tidak terlalu berat. Studio foto yang menjadi keingingan saya untuk bekerja disana.

Karna saya juga suka dengan dunia fotografi “cocok nih, pas buat saya untuk menambah ilmu dan pengalaman disini”, batin saya.

“Gimana ini rencana liburannya? Pak Bos hari sabtu dan minggu nggak ada di rumah”, ujar Hudeng kepada saya.

Lho, kalo aku sih siap-siap aja. Apa katamu dah, hihi”, jawab saya dengan sedikit senyum.

“Silvia gimana?”, tanya Hudeng kepada temen kerjanya yang bernama Silvia.

Budalkan!”, jawab Silvia dengan rasa semangat.

Hudeng dan Silvia ini, teman saya sewaktu di Surabaya. Teman satu kampus, satu kelas dan satu jurusan juga. Jadi, sudah saling kenal sebelumnya, hehe.

Berangkat

Sabtu siang, pak bos dan bu bos sudah mulai siap-siap untuk menjenguk anaknya, dan sorenya sudah berangkat menuju ke Ponorogo.

Yeach, orangnya sudah berangkat. Besok kita tinggal untuk refreshing, hihi”, ujar Hudeng dengan rasa senangnya.

Karna di tempat kerja saya, tidak ada yang namanya tanggal merah. Setiap hari, kita masuk kerja.

Dari jam enam bantu-bantu bersihin rumah, teras, bersihin motor dan lainnya. Sampai jam delapan baru mulai bekerja dan berakhir jam sembilan malam.

Sudah seperti kerja rodi, huh. Seperti kerja kuli bangunan juga, hihi. Tapi jam 12 sampai jam satu ada waktu istirahat untuk kita. Jadi lumayan, sudah meringankan beban sedikit.

  • Pantai Tambakrejo

Pantai Tambakrejo
Gambar diambil saat Hudeng dan Silvia melihat ombak

Hari minggu telah tiba. Pagi-pagi kita sudah siap untuk menuju pantai. Pantai yang sebelumnya sudah direncakan dari awal.

Pantai Tambakrejo sebagai tujuan pertama kita untuk berlibur. Pantai yang berada di Desa Tambakrejo, Kecamatan Wonotirto, Kabupaten Blitar, Jawa Timur.

Pantai berpasir putih yang terletak kurang lebih 30 km dari sebelah selatan Kota Blitar. Pantai yang juga terletak di sebuah teluk dengan garis pantai mencapai 10 km.

Selain keelokan pantainya, pantai ini juga menyimpan aura mistis seperti pantai-pantai lain yang berada di perairan laut selatan.

Perjalanan yang melewati perbukitan dan pegunungan yang naik turun dan meliuk-liuk, membuat kita harus mengeluarkan tenaga extra dan keahlian dalam menyetir kendaraan.

Jarak tempuh yang memakan waktu kurang lebih satu sampai dua jam, untuk sampai lokasi.

“Kalo nyetir hati-hati, jangan ugal-ugalan”, ucap saya kepada Hudeng sambil tabok helmnya, hihi.

“Ini sudah pelan Cak Mat, memang jalannya yang seperti ini”, jawab Hudeng dengan wajahnya datarnya.

Hehe, iya-iya deng bercanda”, kata saya sambil bergurau.

Sampai di pantai, kita melampiaskan semua beban yang ada pada diri kita. Rasa jenuh yang sudah beberapa hari tidak pernah  keluar dari tempat kerja, karna sibuknya pekerjaan yang tidak ada tanggal merahnya.

Rasa yang dinanti-nanti sudah tidak terbayang lagi. Impian yang sudah lama ingin berlibur, sudah tercapai.

Tidak memikirkan bos yang sudah pergi menjenguk anaknya, karna mereka juga belum tentu berfikir tentang kita.

Tapi yang kita takuti, apabila mereka sudah kembali ke rumah dan kita tidak ada, tamatlah riwayat kita. Disuruh jagain rumah malah kita tinggal untuk berlibur, hihi.

Yah, itulah kita. Mereka kalo keluar, entah itu menjenguk anaknya, berlibur dengan saudaranya kita pasti keluar juga. Entah itu kemana, yang penting kita juga keluar, hihi.

Seringkali seperti itu, kira-kira satu bulan bisa dua sampai tiga  kali. Lumayan juga buat kita keluar, hihi.

  • Pantai Pangi

Pantai Pangi
Gambar diambil saat mereka mengubur diri

Setelah puas dengan kenikmatan Pantai Tambakrejo, kita berdua melanjutkan ke pantai sebelahnya. Karna Silvia harus pulang untuk mengantar ibunya ke Malang dan tidak melanjutkan liburannya bersama kita.

Pantai Pangi menjadi tujuan kedua dari liburan kita. Pantai yang berada di cekungan kecil, yang diapit oleh dua batu karang yang berdiri kokoh di sisi kiri dan kanan pantai.

Karna bentuk yang cekung dan diapit oleh dua batu karang, pantai ini juga bisa dibuat untuk berenang dan bermain air. Tapi tetap selalu waspada dengan ombak yang ada.

Jarak yang dekat dengan Pantai Tambakrejo, hanya menempuh perjalanan sekitar 20 menit saja. Perjalanan yang tidak terasa melelahkan juga, karna pemandangan yang indah di sekitar dan suasana yang sejuk.

Sesekali kita bernyanyi selama perjalanan, menghilangkan rasa penat yang ada di otak, merasakan keindahan alam sekitar.

Sampai di pantai, kita lihat-lihat sebentar. Pemandangan yang cukup indah dengan orang yang banyak berkunjung disana. Sayapun menghampiri orang asing yang terlihat masih muda.

“Mas, dari mana?”, tanya saya kepada orang asing.

“Ini lho mas, dari Pantai Tambakrejo langsung kesini. Mumpung deket, hehe”, jawab orang asing.

“Owalah, sama kalo gitu mas. Saya juga dari sana tadi”.

Perbincangan antara saya dengan orang asing ini cukup lama. Namanya Miftah dari Malang, dia kesini bersama teman sekolahnya.

Dekat dengan pantai, karna posisi dia sekarang sedang masa PSG di Blitar. Jadi tidak heran, kalo anak sekolah masih sangat suka liburan.

Saling cerita tentang kehidupan kita, becanda. Bahkan, menguburkan diri di dalam pasir juga dilakukan dengan mereka.

Melukis karya anak bangsa yang sudah terpendam, “bukan parno ya, ini sebatas karya anak bangsa yang berasal dari Kota Malang”, ujar Yasin teman Miftah.

Putar Balik

Tidak terasa, sore telah tiba. Rasa puas dengan liburan dua pantai dalam satu hari sekaligus.

Rasa khawatir kita juga ada, karna takut nantinya bos kita sudah ada di rumah dan kita belum juga datang.

Heh deng, kita nanti nggak telat ta? Udah sore nih”, kata saya sambil khawatir saat di jalan.

Halla, tenang saja. Kuncinya kan di kita, jadi mereka nanti kalo datang sudah pasti di depan rumah”, dengan santainya dia menjawab.

Rasa khawatir untuk dia tidak ada sama sekali, karna dia anaknya selow. Wajah datar dan kekonyolan dia yang menjadi ciri khasnya. Tapi kalo saya khawatir, karna masih baru kerja disana.

Setelah sampai rumah, mereka sudah kembali di rumah dan mereka sudah menunggu di depan rumah.

“Ini tadi dari mana, kok baru datang?”, tanya bos saya kepada kita.

“Itu bu, dari pantai. Mencari udara segar”, jawab Hudeng dengan rasa kalem.

“Lain kali izin dulu ya, kalo mau keluar, biar enak nantinya, saya juga bisa mengkondisikan nantinya di rumah. Kalo rumah di tinggal, terus siapa yang jaga. Jangan diulangi lagi ya!”, jawab bu bos kita dengan agak kesal.

Rasa penyesalan yang kita rasakan untuk tidak mengulanginya lagi. Tapi ajakan Hudeng ini, selalu berhasil membuat saya lengah akan hasutannya.

Beberapa kali sudah terjadi, tapi alhamdulillah hanya pertama kali ini kita ketahuan keluar rumah tidak izin dengan bos kita.

Bolehlah kita mencari kegiatan di luar rumah untuk merefresh otak kita yang sudah tertimpa beban kerja.

Tapi lihat-lihat dulu, kerjanya seperti apa. Seperti kerja saya atau kerja yang hanya bersantai-santai saja.

Karna kerja saya sangatlah lelah dan tidak ada libur sama sekali. Jadi, bolehlah menyelinap sebentar untuk hal yang kita inginkan, hihi.

Cukup sekian dari cerita ini, semoga bermanfaat bagi kalian yang membaca.

Salam berbagi untuk saling melengkapi.

Mandhom Sesungguhnya aku tak butuh dunia, jika ternyata aku mampu melihat keindahan-Nya dari mata seorang hamba yang kelak bersujud satu sajadah di belakangku.

Al-Hikmah Fesban MBI

Mandhom
4 min read

Kehidupan Seorang Karyawan

Mandhom
5 min read

Mondok Dua Hari

Mandhom
5 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: