Mandhom Sesungguhnya aku tak butuh dunia, jika ternyata aku mampu melihat keindahan-Nya dari mata seorang hamba yang kelak bersujud satu sajadah di belakangku.

Naik Ada Ditengah Hilang Dibawah Ada

4 min read

Gunung Penanggungan
Gambar pemandangan dari atas Puncak Gunung Penanggungan

Assalamu’alaikum kawan MasnID. Pasti sudah pada menunggu postingan website ini. Tenang saja admin akan membagikan postingan pertama di website ini.

Admin disini akan sedikit berbagi cerita dengan kawan. Pasti pada penasaran dengan judulnya kan, kenapa kok admin beri judul “Naik Ada Ditengah Hilang Dibawah Ada?”

Nih, simak dan patengin terus postingan perdana ini, menarik nggak menarik semoga kawan menikmati cerita yang admin bagikan.

Keputusan Naik Gunung Penanggungan

Jengjeng. Nggak nyangkakan kalo admin bakal cerita tentang perjalanan selama admin naik dan turun gunung.

Teman admin yang bernama Fendik. Dia ingin sekali naik gunung ini, karna selama hidupnya dia belum pernah naik gunung.

Ya mungkin cuma di Gunung Bromo yang tempatnya….. nggak admin jelaskan pasti kalian udah pada tau semua. Ya benar, ada empat Kabupaten yang mengelilingi Gunung Bromo termasuk Kabupaten Probolinggo, Malang, Pasuruan dan Lumajang.

Eh, stop dari pembahasan Gunung Bromo. Karna admin lagi bahas tentang judul yang di atas.

Fendik ini teman kerja admin. Dia kerjanya di pusat, tapi admin kerja dicabangnya. “Ayo muncak, jangan tinggi-tinggi, sini aja Penanggungan”, ujarnya di grup whatsapp.

“Berangkat!!! Ajak temen kerja  dan anak-anak PSG sekalian, biar tambah rame”, kata admin yang terlalu semangat, hihi.

Karna pada saat itu ada anak PSG, jadi sekalian ajak mereka yang juga kebeneran hobi travelling. Apalagi kalo di ajak muncak, nggak ada bosennya mereka.

Melihat kondisi teman kerja admin yang belum jelas kegiatannya, karna biasanya minggu ada sebagian yang kerja (piket). Tanggal merah juga hari minggu saja, terpaksa kita berangkat hari sabtu malam.

“Peralatan buat naik nanti gimana?”, dengan cepatnya Thoriq teman kerja admin menanyakan itu kepada Fendik.

“Aku ada mas, nanti sisanya bisa sewa”, jawab salah satu dari anak PSG tersebut.

Dan perlu kawan ketahui, pendakian ini admin lakukan setelah sorenya ada acara di desa yaitu karnaval. Bisa dibayangkan, gimana rasanya habis karnaval di lanjut dengan mendaki, huh.

Mulai Pendakian Pada Malam Hari

Gunung Penanggungan
Gambar diambil saat mulai pendakian

Dan perlu kawan ketahui juga. Ini adalah kedua kalinya admin mendaki gunung disini. Yang pertama yaitu dua minggu sebelum admin mendaki dengan teman kerja admin ini.

Bayangkan saja, dua minggu diajak teman mendaki lagi dan itu gunung yang sama dengan pendakian pertama admin, huh.

Tapi disetiap perjalanan, pasti ada sesuatu yang berbeda. Seperti admin ceritakan kali ini.

Sabtu malam, berangkatlah kita pada hari itu dengan peralatan yang insyaallah sudah lengkap semua. Tapi sebelum berangkat, kita dikasih arahan sama tim SAR dari Gunung Penanggungan.

Dan tak lupa juga kita berdo’a, agar tidak terjadi hal buruk dan diberi keselamatan saat perjalanan. Baik saat naik maupun turun gunung.

Perjalanan dari pintu masuk (pos 1) sampai pos 2 tidak begitu melelahkan. Tapi, yang belum pernah mendaki pasti akan terasa kakinya saat berjalan. Apalagi perjalanan naik gunung.

Sampai di pos 2, berhenti sejenak untuk menghilangkan sedikit rasa lelah dan melanjutkan perjalanan lagi ke pos 3.

Jarak antar pos 2, pos 3 dan pos 4 lumayan jauh dan trek yang masih asing dengan seorang pendaki pemula, cukup melelahkan untuk mereka.

Kalo admin sih biasa aja, karna sebelumnya sudah pernah mendaki di gunung ini, hihi. “Nggak bermaksud sombong kok kawan”.

Canda Tawa Perjalanan

Gunung Penanggungan
Gambar diambil saat tertidur pulas

Nah, perjalanan dari pos 4 ke puncak bayangan ini, juga lumayan jauh jaraknya. Sesekali, kita berhenti sejenak dengan minum air yang kita bawa.

Sesekali kita dengar “Ayo mas, semangat!!!”, pendaki lain yang melintas didepan kita, dengan rombongan yang cukup begitu banyak.

Ada juga yang “Sedikit lagi sampai puncak bayangan mas!!!”, pendaki yang hendak turun gunung malam-malam, dengan wajah yang cukup menyemangati kita saat mau tiba di puncak bayangan.

Sekitar setengah jam sampai satu jam dari rombongan kita dengar suara “Mana puncak bayangan, dicari dari tadi kok nggak nyampek-nyampek”.

Dengan rasa lelah dan tawa menemani perjalanan pendakian malam hari itu. “Oh, bohong ya pendaki yang turun tadi. Bilangnya sedikit lagi, tapi kok nggak nyampek-nyampek”.

Kedua kalinya kita merasa tertawa lepas dengan perjalanan pendakian malam itu. Tak lupa untuk menambah cairan agar menambah semangat kembali.

Sesampainya di puncak bayangan, kita bergegas mencari tanah lapang untuk mendirikan tenda dan kebetulan, kita dapat tanah lapang yang miring dan berbatu, hihi.

Setelah proses pendirian tenda, kita mengobrol sedikit-sedikit dan masak air untuk memasak mie dan kopi.

Setelah itu, kita langsung beristirahat untuk melanjutkan perjalanan besok pagi menuju Gunung Penanggungan yang sesunguhnya.

Dan perlu kawan ketahui, admin disini  beristirahat diluar tenda hanya beralas matras, berjaket dan berselimut sarung. Bisa dibayangkan, bagaimana dinginnya badan dengan selimut sarung saja?

Pengalaman yang nggak akan pernah terlupakan dan sangat berharga dengan teman kerja dan anak PSG ini.

Puncak Gunung Penanggugan

Gunung Penanggungan
Gambar diambil saat di Puncak Gunung Penanggungan

Pagi hari yang semangat, untuk melanjutkan perjalanan kembali menuju puncak Gunung Penanggungan. Meskipun belum sarapan, tapi kita sudah terburu-buru untuk naik ke puncak.

Tapi sayang, salah satu dari anak PSG harus menjaga tenda dan berhenti untuk melanjutkan perjalanan menuju puncaknya. Karna anak PSG ini sudah sering kali mendaki di gunung ini.

Perjalanan yang begitu ekstrem, menjadikan sebuah tantangan yang harus diselesaikan untuk mencapai puncak Gunung Penanggungan. Dan menjadikan semangat teman-teman untuk melihat kekuasaan yang sudah diciptakan oleh-Nya.

Balap-membalap antar teman untuk segera mencapai puncak terlebih dahulu. “Aku dulu ya bro”, terucap dari bibir manis seorang Fendik, wkwk.

Sesampainya di puncak, kita pun melihat pemandangan yang berada dibawah. Melihat ciptaan Tuhan yang begitu  indah dan hanya bisa bersyukur dengan apa yang sudah diperjuangkan semalam.

Tak ada yang sia-sia untuk seorang yang telah berjuang demi melihat ciptaan Tuhan. Berbagai canda tawa yang terucap saat perjalanan mendaki gunung.

Bersabar, bersyukur dan bersama-sama menjalaninya sesuai dengan trek yang ada itu adalah kunci dari puncak Gunung Penanggungan ini.

Titik tujuan yang sebenarnya adalah rumah, kembali ke rumah dengan selamat dan puncak hanya bonus dari perjalanan pendakian.

Dan tak lupa, wajib hukumnya untuk mengambil dokumentasi alias berfoto-foto, agar bisa diceritakan kepada anak cucu kita nantinya, hehe.

Ditengah-Tengah Hilang Dibawah Ada Tapi Tertinggal

Setelah beberapa jam di puncak. Kita pun memutuskan untuk turun dari puncak gunung, dengan alasan sudah puas menikmati keindahan alam dan juga sudah terlalu siang.

Kembali ke puncak bayangan untuk memasak mie dan membuat kopi. Menghabiskan bekal yang sudah dibawah dari rumah dan pembelian dari toko.

Membongkar tenda, berkemas dan membersihkan sisa plastik bekas yang tercecer di tanah. Membawa kembali turun untuk bisa menjaga alam kita dan terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Gunung Penanggungan
Gambar diambil setelah dari Puncak Gunung Penangungan

Kita berjalan menuruni gunung dan hampir semua rombongan kita nggak ada yang peduli. Semua sudah merasa lelah, capek dan sampai nggak sadar, kalo ada rombongan kita yang menghilang satu.

Hafid rombongan dari kita yang menghilang dan nggak seorang pun dari rombongan kita yang tau.

Ditengah-tengah perjalanan kita semua heran, berangkat dengan orang yang sudah pas tapi saat turun kok ada yang hilang satu.

Kita semua mencari dia sambil menuruni gunung. Tanya orang sana, sini nggak ada yang tau. Sepanjang jalan turunan kita sudah cari, tapi hasilnya nihil.

“Mungkin dia sudah duluan, sudah nyampek bawah”, ujar seorang Fendik dengan rasa yang masih ragu-ragu.

Dan benar, sesampainya admin dan teman admin duluan di pintu masuk, dia belum turun. Admin dan teman admin juga sudah menanyakan ke penjaga pintu masuk. “Pak, apa ada rombongan dari kita yang sudah turun dan sudah laporan ke anda?”.

“Maaf mas, belum ada”, jawab dari penjaga pintu masuk gunung.

Alhamdulillah Dia Kembali

Teman-teman admin sedikit demi sedikit sudah turun. Satu demi satu sudah menampakkan wajah lelahnya.

Dan yang terakhir ada Thoriq dan juga Hafid. Yah benar, dia yang menghilang sudah kembali lagi.

Ternyata setelah ditanyai oleh Thoriq, ternyata dia turun lewat jalur yang jarang dituruni oleh pendaki. Jalur yang asing olehnya, jalur yang berbeda dengan awal mula pendakian.

Dan dia heran “Kenapa kok nggak ada teman-teman saya di jalur ini?”, dia kebingungan mencari temannya. Karna yang dia lewati bukan jalur yang sama seperti saat mulai mendaki.

Nah, itu dia. Cerita sedikit yang admin bagikan ke kawan. Mungkin ada banyak ujian dan cobaan yang ada dicerita ini.

Intinya, jangan sampai kita perlihatkan sikap ego kita, terhadap sesama teman dan menjaga solidaritas.

Yah, mungkin itu aja sih yang bisa admin sampaikan. Lain waktu admin akan berbagi dengan kisah admin yang berbeda.

Saya sebagai admin mohon maaf jika penulisan admin masih ada yang kaku dan belum baku. Sampai jumpa.

Salam berbagi untuk saling melengkapi.

Wassalamu’alaikum.

Mandhom Sesungguhnya aku tak butuh dunia, jika ternyata aku mampu melihat keindahan-Nya dari mata seorang hamba yang kelak bersujud satu sajadah di belakangku.

Al-Hikmah Fesban MBI

Mandhom
4 min read

Kehidupan Seorang Karyawan

Mandhom
5 min read

One Day Two Beach

Mandhom
4 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: